Memilih Jajanan yang “Sehat” di Sekolah

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat  akhir akhir ini juga berimbas pada produk produk pangan, salah satunya adalah makanan ringan atau snack atau sering di kenal dengan istilah jajanan. Produsen berlomba lomba menciptakan produk produk baru untuk menarik konsumen. hal ini bisa kita lihat dari jor-jorannya mereka menawarkan produk-produknya melalui berbagai jenis iklan baik di media cetak ataupun media elektronik. Salah satu konsumen yang dianggap sangat potensial adalah anak anak usia sekolah. Anak anak tidak hanya menarik mereka yang punya perusahaan besar, pedagang kecil kelilingpun menjadikan anak anak sebagai target utama produk mereka. Tapi benarkah produk produk makanan ringan atau jajanan yang di jual tersebut benar benar aman untuk kesehatan ?

Faktanya sungguh mengagetkan. Berdasarkan data dari pemantauan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Pendidikan Nasional dan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2014 terhadap kantin sekolah, ditemukan hanya 0,9 persen kantin sehat dari total 178.240 sekolah. Kalau 0,9 persen yang sehat, berarti sisanya merupakan jajanan tidak sehat, berbahaya dan meracuni anak-anak, mulai dari makanan kemasan hingga sambel ulek yang dibuat sendiri oleh pedagang keliling di sekolah-sekolah, tanpa melalui proses uji keamanan pangan yang layak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis bersama siswa CIBI pada tahun 2015 juga menunjukkan bahwa jajanan yang diambil secara acak dari pasar tradisional sekitar Pakong baik itu berupa snack, krupuk dan pentol atau bakso hampir semuanya mengandung boraks. Hal ini tidak saja berbahaya bagi tubuh, bahkan bisa melanggar hak seseorang untuk mendapatkan jaminan akan keamanan pangan yang layak dan sesuai dengan ketentuan BPOM. Pertanyaannya kenapa jajanan itu kemudian dianggap berbahaya?

Makanan dan minuman akan menjadi lebih menarik dengan beberapa tambahan asesoris yang di sebut zat tambahan atau zat aditif. Jajanan di anggap berbahaya jika tambahannya mengandung bahan bahan kimia yang memang tidak di peruntukkan untuk makanan tapi kemudian di campurkan ke dalam makanan. Anak anak tertarik membeli jajanan tersebut karena selain menarik pada umumnya efek yang di rasakan muncul dalam waktu yang relatif panjang, sementara pedagang dan produsen nakal cendrung menambahkan zat zat tersebut selalu atas dasar ekonomi dan keuntungan yang lebih besar. Bahan kimia aditif itu diantaranya adalah:

  1. Siklamat (pemanis buatan) terdapat pada minuman ringan
  2. Sakarin (pemanis buatan) terdapat pada minuman ringan
  3. Nitrosamin (aroma khas pada sosis, keju, kornet, ham dan dendeng)
  4. MSG (penyedap rasa) terdapat pada semua jenis snack
  5. Rhodamin B (pewarna tekstil dan kertas) terdapat pada beberap snack dan kue basah
  6. Metanil Yellow (pewarna tekstil dan cat)
  7. Formalin (pengawet non makanan dan disinfektan pada mayat) terdapat pada makanan basah
  8. Boraks (bahan baku pembuat keramik, pengembang, pengenyal dan pengawet non makanan dan pestisida) terdapat pada krupuk dan makanan basah seperti lontong, bakso, mie, pentol dll
  9. Natamysin (pengawet)
  10. Kalium asetat (pengawet)
  11. Butil Hidroksi Anisol (BHA)

Zat-zat berbahaya ini dapat menyebabkan berbagai gangguan pada tubuh, mulai dari yang ringan dan jangka pendek seperti tifus, mual, muntah dan diare. Dalam jangka panjang Pemanis buatan di ketahui dapat menyebabkan lesu otak. Di jepang MSG di anggap bertanggung jawab terhadap peningkatan kebutaan dan katarak dini sementara pengawet dan pewarna menyebabkan kerusakan pada sistem pencernaan, ginjal,  hati, jantung, otak, limpa dan sistem saraf pusat, bahkan dapat memicu kanker. Sayangnya, di sekolah dan madrasah islam pengawasan dari orang tua, guru dan murid tentang jajanan anak sangatlah kurang, berbeda dengan beberapa sekolah non muslim yang sangat ketat dalam memilih jajanan untuk siswanya.

abc

Untuk menjaga kesehatan tubuh, siswa harus bisa memahami mana jajanan yang berbahaya dan mana jajanan yang sehat dan bergizi. Maka dari itu tanyalah pada guru IPA-mu tentang makanan di sekitar sekolah yang layak di konsumsi atau tidak. Atau alternatif lainnya adalah membawa makanan dari rumah, Atau belajar dari beberapa sekolah yang sudah mendapat predikat sekolah sehat. Pada sekolah ini guru IPA selalu memfilter, mengawasi jenis2 makanan yang di jual di kantin sekolah.  Pengawasan dari guru dan orang tua sangatlah penting karena ini berhubungan dengan bagaimana menyiapkan generasi bangsa yang sehat dan kuat di masa depan. Ingatlah nasehat para sufi yang berkata “Perutmu bisa menjadi sumber penyakitmu”.

By

Abu Bakar, S.Si

(Guru Biologi MTsN Sumber Bungur Pamekasan)

Tinggalkan Balasan