SOSIALISASI GERAKAN (SPAK) DHARMA WANITA PERSATUAN MTsN SUMBER BUNGUR PAMEKASAN

SPAK adalah singkatan dari Saya Perempuan Anti Korupsi, merupakan sebuah gerakan yang dilahirkan dari sebuah keprihatinan. Dikatakan demikian karena dari masa Orde Lama berkuasa hingga pada saat masa Reformasi seperti sekarang, Indonesia masih dikenal sebagai salah satu Negara terkorup di dunia. Padahal di era yang menuntut adanya perubahan agar segala sesuatu menjadi lebih transparan dan terbuka, malah laju pelanggaran di bidang tindak pidana korupsi tidak semakin berkurang. KPK yang merupakan lembaga yang diberi wewenang untuk memberantas Korupsi di negeri ini telah mencurahkan segala upaya dalam menindak pelanggaran tersebut, namun semakin banyak kasus yang diungkap oleh KPK semakin banyak pula kasus-kasus korupsi baru yang muncul.

SPAK merupakan salah satu cara KPK dalam mencegah terjadinya tindak korupsi. Pada tahun 2012-2013 KPK melakukan survey di Solo dan Jogjakarta yang ternyata dalam survey tersebut tersaji fakta bahwa hanya 4% orang tua yang mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya. Kejujuran yang dimaksud bukan dalam arti definisi, tetapi lebih kepada tindakan perilaku bersikap jujur.

Menyanyikan mars Dharma Wanita

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka pada kegiatan rutin Dharma Wanita Persatuan MTsN Sumber Bungur, maka pada hari Rabu tanggal 12 April 2017 diadakan sosialisasi Gerakan SPAK oleh para agen SPAK Kemenag Pamekasan. Hadir dalam kegiatan ini Ibu Hj. Eva yang merupakan istri Kasi Pendma Kemenag Pamekasan Bapak H. A. Nawawi. Ibu Eva sekaligus pemateri dalam sosialisasi ini, karena beliau merupakan Agen SPAK di lingkungan Kemenag Pamekasan.

Pembukaan Sosialisasi SPAK di Auditorium MTsN Sumpa

Mengapa perempuan menjadi sasaran pada gerakan ini? Ibu dipandang sebagai sosok sentral dalam keluarga yang mampu memberikan pendidikan moral dalam keluarga. Ibu juga dipandang mampu untuk mengontrol perilaku suaminya ketika para suami berperilaku mencurigakan dalam memberi kebutuhan materiil. Para ibu bisa menjadi benteng sekaligus motor dalam mencegah terjadinya korupsi yang bisa saja dilakukan oleh suaminya, serta mampu menanamkan sikap anti korupsi pada anak-anaknya. Hal ini disampaikan oleh Ibu Hj. Lilik Pujiastutik selaku penggerak tim Dharma Wanita Persatuan Kemenag Pamekasan di lingkungan MTs Negeri Sumber Bungur.

Penyampaian materi oleh agen SPAK Kemenag Pamekasan

Tidak dapat kita pungkiri, terkadang tindakan korupsi yang dilakukan oleh para suami di tempat kerja, merupakan buah dari tuntutan para ibu terhadap suami dalam pemenuhan keinginan, bukan pada pemenuhan kebutuhan, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dengan gerakan SPAK ini, diharapkan agar para Ibu atau istri dirumah memiliki kepekaan dan kontrol agar para suami tidak melakukan tindakan korupsi.

Pendapat lain juga disampaikan oleh Ibu Siti Fatimah, bahwa korupsi bukan hanya yang berwujud uang. Korupsi  waktu  juga menjadi perhatian dari Ibu yang mengajar Biologi di Madrasah ini. Seorang Ibu, atau istri juga harus peka dan bertanya  ketika suami pulang lebih awal atau terlambat datang ke tempat kerja. Karena memang sebaiknya  seorang istri harus mendorong suami agar berprestasi di karirnya.

Semoga dengan Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi  (SPAK) yang dicanangkan oleh KPK ini, civitas ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan di lingkungan MTsN Sumber Bungur, mampu mengambil hikmahnya serta menerapkan apa yang telah disampaikan dalam sosialisasi dalam kehidupan nyata di lingkungan keluarga mereka masing-masing. Sehingga pencegahan tindakan korupsi dapat terwujud.

Tinggalkan Balasan