TRICKLE DOWN EFFECT MADRASAH

TRICKLE DOWN EFFECT MADRASAH
(Ketergantungan Masyarakat Terhadap Keberadaan Madrasah)

A. Latar Belakang
Trickle Down Effect merupakan sebuah istilah yang dipakai oleh MTsN 3 Pamekasan dalam menerjemahkan berbagai fakta dan fenomena yang terjadi dalam interaksi madrasah dengan masyarakat disekitar madrsah, madrasah dengan aparat pemerintahan dilingkungan madrasah, maupun madrsah dengan pihak lain.
Dalam sejarahnya, Trickle Down Effect adalah Teori yang lahir dari aliran kapitalisme yang dulu sangat diagung-agungkan oleh pemerintahan orde baru. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana sebuah pertumbuhan akan berdampak pada kemakmuran sebuah negara. Dalam teori ini, kemakmuran akan dapat tercapai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tanpa perlu memperhitungkan pemerataan ekonomi. Dalam pandangan teori ini, suatu suntikan ekspansi ekonomi akan berdampak pada multiplier effect terhadap pelaku ekonomi di bawahnya, sehingga akan berimbas pada kemakmuran.
Dengan mengutip pandangan teori tentang Trickle Down Effect yang dikorelasikan dengan desain program pengembangan madrasah educotourism menunjukkan bahwa keberadaan madrsah memberikan dampak secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar lingkungan madrasah.

B. Implementasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat sebagai dampak Trickle Down Effect
MTsN 3 Pamekasan dengan konsep edukotourism, berupaya memberdayakan masyarakat sekitar melalui kampung pendidikan sumber bungur, dimana masyarakat sekitar akan merasa ketergantungan terhadap keberadaan madrasah dalam segala aspek kehidupan dan begitu juga sebaliknya madrasah mendapat manfaat dari masyarakat sekitar.
Madrasah yang dapat merubah dan mempengaruhi masyarakat sekitar merupakan madrasah yang berbaur dengan masyarakat, dan mendapatkan income peningkatan ekonomis dan sosial bagi masyarakat dan madrasah
Berikut adalah implementasi program madrasah Educotourism yang telah memberikan dampak bagi pemberdayaan masyarakat disekitar madrasah.
a. Parkir Masyarakat Berbayar
Bermula dari sebuah pemikiran polusi udara dan pencemarannya dilingkungan madrasah atas asap kendaraan bermotor didukung dengan Undang-undang lalu lintas tentang Surat Ijin Mengemudi (SIM), semua melarang peserta didik untuk membawa kendaraan bermotor ke madrasah. Namun demikian koreksi terhadap kebijakan pelarangan membawa kendaraan bermotor berdampak terhadap kondusifitas madrasah, karena sekitar 30,76% peserta didik jarak dari rumah ke madrasah diatas 10 Km, dan tidak tersedianya angkutan umum yang dapat membantu peserta didik dan masyarakat, sehingga mengubah kebijakan dengan cara bekerja sama dengan masyarakat sekitar madrasah yang memiliki lahan kosong untuk bisa didibangun tepan parkir berbayar.

Adapun tempat parkir berbayar sampa saat ini sedikitnya ada 3 tempat parkir berbayar yakni parkir satu milik pak Huri dengan kapasitas sepeda motor ±128 motor, parkir dua milik pak syarif ± 95 motor dan parkir tiga milik pak jasuli ± 120 motor, dengan omzet pertahun ± Rp 98.784.000,-


b. Warung Masyarakat
MTsN 3 Pamekasan yang bermula dari MTsN Sumber Bungur memiliki lahan sekitar 7000m2 tanah waqaf dari masyarakat sekitar madrasah dengan nadzir pengasuh pendok pesantren sumber bungur, yang pada tahun 2013 diserahkan ke Kementerian Agama, sehingga sebagai madrasah yang berasal dari masyarakat, maka madrasah memberikan fasilitas kepada pewaqaf tanah untuk bisa berjualan disekitar madrasah. sedikitnya 8 kantin masyarakat yakni kantin, (1) Hj. Busiyah, (2) Hj Erna (3) Bu Suana (4) Bu Suri (5) Bu Arma (6) Bu Jasuli (7) Bu Sakim (8) Bu Jaka. Dua kantin madrasah (1) Kopmad Al-Farobi dan (2) Kantin Sehat, Serta 4 toko masyarakat yakni (1) Toko H Halili, (2) Toko Abd Azis, (3) Toko Sakim dan (4) Toko Pak Jaka.yangtotal omzetnya diperkirakan Rp. 1.656.000.000, /tahun.
c. Musholla dan Toilet Berbayar
Kampung pendidikan meruapakan salah satu program pemberdayaan masyarakat sekitar madrasah, yang orientasinya menjadi madrasah sebagai sumber inpsirasi bagi masyarakat sekitar dalam melaukan kegiatannya, termasuk bagaimana madrasah memanfaatkan Musholla masyarakat sekitar madrasah dan toiletnya untuk diberdayakan agar menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar madrasah. sedikitnya ada 7 musholla dan 14 kamar mandi/toilet yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung ke madrasah baik peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan maupun pengunjung lain yang sengaja hadir ke madrasah.
Musholla dalam konsep kampung pendidikan diberdayakan dengan tidak hanya dijadikan tempat sholat saja, melainkan juga menjadi tempat belajar, diskusi dan kegiatan pembelajaran lainnya bagi peserta didik dalam setiap momentum.
Dengan demikian maka keberadaan toilet/kamar mandi musholla merupakan suatu kenisyaan yang harus di berdayakan agar berdaya guna dan tidak merugikan pemilik musholla, sehingga penggunaan toilet masyarakat untuk waga madrasah berbayar @Rp. 500,-/pakai. Dengan 10% income ke madrasah.
Dari 14 toilet musholla masyarakat sekitar madrasah dapat dirinci data sebagai berikut (1) Pak Syaifullah rata-rata dikunjungi 20 orang perhari dengan perolehan Rp. 2.880.000/tahun, (2) Pak Ahmad rata-rata dikunjungi 15 orang perhari dengan perolehan Rp. 2.160.000,-/tahun, (3) Pak Abd Halim (4) Pak Pak Huri, (5) Pak Mudhar, (6) Pak Jakfar, dan (7) Pak Moh Ra’ie rata-rata dikunjungi 10 orang per hari sehingga masing-masing mendapatkan perolehan Rp. 1.440.000,-/tahun.
d. Pemanfaatan dan Pemeliharaan Destinasi Wisata
Salah satu program pendukung Madrasah Edukotourism MTsN 3 Pamekasan, setiap hari jum’at ada program BERSAHABAT (Bersih, Sehat, dan Bakti Sosial). Dalam kegaitan ini Guru dan peserta didik dibagi tiga bagian yakni kelas VII, kelas VIII dan kelas IX(peserta didik dan wali kelas) dengan pembagian jadwal secara bergantian yakni (1) Bersih-bersih lingkungan/Bakti Sosial (2) Jalan-jalan Sehat dan (3) Senam Bersama. Dalam program itu juga menjadikan alat untuk melestarikan dan memelihara dengan cara membersihkan destinasi wisata bukit brukoh dan sekaligus merawatnya, sebagai sarana pembelajaran peserta didik diluar madrasah.
Kemudian saat ini sedang dirancang untuk memeliharaan bukit sekkar yang berada di desa Palalang yang dihuni kera liar dan hampir punah, sehingga pelestarian terhadap kera-kera itu menjadi tanggung jawab bersama, karena peserta didik MTsN 3 Pamekasan sebagian berasal dari sekitar bukit sekkaran
e. Produksi Produk Unggulan Madrasah
MTs negeri 3 Pamekasan dikenal telah memiliki produk unggul khas madrasah dengan ijin resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Produk-produk tersebut antara lain Teh herbal daun bungur, dendeng daun singkong, abon pepaya, mie organic, T-Shirt madrasah, gantungan kunci, dll.
Kepala madrasah Income madrasah selain BOS adalah penjualan produk-produk hasil karya siswa, guru yang dipasarkan melaui kantin, toko dan dinas koperasi kabupaten dan propinsi jawa timur.

Tinggalkan Balasan